
Hanif sekarang berumur lima tahun. Lebaran sebulan yang lalu, Hanif, bersama Ayah dan Bunda berkunjung ke rumah Kakek di Bandung. Di sana Hanif bertemu dengan sepupu-sepupunya. Hanif senang sekali, bisa bermain bersama mereka. Ada Kak Fauzan yang sudah kelas enam SD, Teteh Atikah yang tiga tahun lebih tua dari Hanif, dan ada Dede Hafidz yang baru enam bulan umurnya.
Suatu hari, ketika mereka semua sedang bersantai di ruang keluarga, Bibi Nisa, ibu Kak Fauzan, berkata pada Hanif, “Hanif sekarang sudah besar ya? Berat badannya berapa?” Bunda menyahut, “Berat badan Hanif 15 kg. Kak Fauzan berapa?” ”Setelah puasa agak turun berat badannya, jadi 24 kg, “jawab Bibi Nisa. Mendengar percakapan mereka, Hanif jadi ingin tahu, dan bertanya kepada Bunda, “Bunda, mengapa berat badan Kak Fauzan lebih banyak dari Hanif?”
Bunda tersenyum, lalu mulailah beliau bercerita. Ketika baru lahir berat badan kita hanya sekitar 2-3 kilogram. Ketika berumur 10 tahun menjadi 30-35 kilogram. Pada waktu berumur 15 tahun berat badan kita menjadi 40-50 kilogram, dan pada usia 20-25 tahun akan menjadi 50-60 kilogram. Berat badan kita berubah karena seiring waktu sari-sari makanan yang kita makan bersatu dengan tubuh kita. Sari-sari makanan ini sebagian terpakai ketika bermain sepeda, belajar, dan berlari pagi. Sebagian lagi bersatu dengan tubuh dalam bentuk daging, dan tulang yang berkembang. Ada juga sari makanan yang tidak berguna, yang kemudian dibuang dari tubuh kita. Jadi semakin bertambah usia kita, berarti semakin banyak sari-sari makanan yang bersatu dengan tubuh kita, dan berat badan kita pun semakin bertambah.
Hanif masih penasaran, dan bertanya kembali, “Tapi, Bunda, daging dan tulang Hanif kan tidak sama bentuknya dengan ketupat opor yang tadi siang Hanif makan?” Yang hadir di situ tertawa. Lantas Bunda melanjutkan ceritanya. Apa yang terjadi dalam tubuh kita bisa diibaratkan dengan penambangan minyak. Di penambangan, minyak mentah diolah melalui sebuah proses sehingga berubah menjadi minyak yang dapat dipergunakan. Begitu juga yang terjadi dalam tubuh kita, makanan yang masuk ke dalam tubuh dicerna sehingga dapat dipakai oleh tubuh. Makanan dikunyah oleh gigi, dihancurkan di lambung dan di usus, kemudian diserap sari-sarinya oleh sel-sel tubuh kita dan melalui pembuluh darah sari-sari makanan tersebut bergerak ke bagian-bagian tubuh yang membutuhkannya.
Hanif mengangguk-angguk, berusaha membayangkan apa yang diceritakan Bunda. Sejurus kemudian, Hanif kembali bertanya, “Bunda, ketupat opor tadi siang nanti jadi apa? Jadi daging Hanif, begitukah? Lalu susu yang Hanif minum jadi darah? Benarkah, Bunda?
Bunda tersenyum bijak dan menjelaskan kembali. Seperti di penambangan, minyak mentah diolah sehingga menghasilkan produk yang bermacam-macam. Bensin yang dipakai mobil dan plastik yang dipakai untuk mainan, keduanya merupakan hasil olahan minyak mentah. Demikian halnya dengan makanan, setelah sampai ke dalam tubuh dicerna sesuai dengan kebutuhan tubuh, sehingga menghasilkan bermacam-macam zat, seperti lemak, gula, karbohidrat dan lainnya. Akan tetapi, setelah Hanif makan ketupat opor atau minum susu, peristiwa yang terjadi dalam perut, lebih rumit dibandingkan di penambangan minyak.
Selanjutnya, dengan bijak Bunda membelai kepala hanif, dan mengakhiri ceritanya, “Hanif, tubuh Bunda, Hanif, Ayah, Kakek, Bibi Nisa, Kak Fauzan, Teteh Atikah dan Dede Hafidz, dan semua orang di dunia ini sangat hebat. Karena tubuh manusia diciptakan oleh Allah Yang Mahacerdas, Mahapintar, dan Mahahebat. Maka, Hanif rajin belajar, dan berdoa, ya, supaya Hanif diberi kecerdasan oleh Allah.”
Sumber: www.pakdenono.com
0 comments:
Post a Comment